Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2010

Article

Mie Tarik ala La Mian

JALAN Sutera alias Silk Road, sebelah barat daratan Tiongkok yang merupakan pintu perdagangan timur- barat sekaligus gerbang negeri China, memperkenalkan beragam komoditas dari bubuk mesiu, sutra, porselen, hingga bakmi. Tanpa dinyana, salah satu bakmi khas China, yakni shanghai la mian atau sering disingkat la mian, yang kini merambah Indonesia, juga berasal dari Jalan Sutera, tepatnya di Provinsi Gan Su.

GAN Su di barat daya China ini terletak memanjang sepanjang Jalan Sutera, terbentang antara Provinsi Xin Jiang, Mongolia Dalam, Qing Hai, Si Chuan, Shan Si, dan Ning Xia Hui. Wilayah ini memiliki karakteristik khusus karena menjadi pertemuan budaya suku bangsa nomaden (Uigur-Tajik-Kazak- Hui-Mongol), etnis Han, dan ajaran Islam.

Sesuai dengan karakter wilayahnya, stepa, gurun, dan pegunungan, membuat ternak kuda, sapi, dan kambing populer di kawasan ini sehingga secara tak langsung memengaruhi budaya pembuatan bakmi setempat yang dominan menggunakan lauk daging sapi dengan kaldu kental. Rasa pedas turut mewarnai seni kuliner khas kawasan ini, membedakannya dengan kawasan lain di China yang memiliki makanan khas bakmi dengan pelengkap daging ayam atau babi sebagai teman makan.

Bakmi ini dibuat dengan tarikan tangan terampil koki sehingga mendapat sebutan la mian (la berarti tarik dan mian berarti mi, dibaca lamien-Red). Tak ketinggalan para pembuat bakmi la mian seperti koki Xiao Long Long (29) yang bekerja di Restoran Crystal Jade La Mian Xiao Long Bao di Jakarta mendapat julukan khusus, yakni "La Mian Shifu" alias Suhu La Mian.

Menurut Long Long, tradisi tersebut sudah berusia berabad lamanya di Gan Su, tempat kelahirannya. Alkisah, seorang pria bermarga Gan adalah penemu la mian semasa Dinasti Qing (1644-1911 M).

Lama-kelamaan la mian pun menjadi populer di daratan Tiongkok, terutama di kota-kota besar di pesisir timur China, seperti Kota Shanghai. Bahkan akhirnya justru lebih populer dengan sebutan shanghai la mian.

Kini para suhu la mian tersebut turun gunung menjelajah kota besar Indonesia berbekal ilmu pemuas lidah dan pengisi perut warisan Jalan Sutera.

MEMBUAT la mian adalah sebuah seni dan atraksi menarik. Panjang, pendek, lebar, tipis, untaian mi dalam adonan tangan terampil seorang shifu menjadi tontonan khas sebelum menyantap la mian. Menarik, membanting, memutar, memilin, kemudian sepanci air mendidih disiapkan untuk merebus mi buatan tangan itu. Lantas, jadilah seporsi bakmi sedap.

Dalam satu menit, Long Long mampu membuat tiga porsi la mian dan setiap hari ratusan porsi la mian dihasilkan oleh tangan terampilnya.

Long Long bersama rekannya, Zhao Er Hu dan Yang Yong Feng, belajar bertahun-tahun untuk dapat membuat la mian yang baik dan benar. Long Long telah 10 tahun menjadi koki la mian di Shanghai setelah sebelumnya menjadi pembantu koki selama dua tahun.

Kebetulan sekali ketiga orang shifu ini berasal dari Provinsi Gan Su, tempat kelahiran la mian. Mereka telah berpengalaman bekerja di restoran besar berkapasitas 200-300 pengunjung di Shanghai.

Para pria Gan Su adalah pewaris setia budaya kuliner la mian. Semisal Long Long, dia memiliki adik lelaki dan paman (jiu-jiu-Red) berprofesi sama, menjadi la mian shifu. Bahkan paman Long Long memiliki sebuah restoran besar di Shanghai yang mampu menampung ratusan pengunjung.

Untuk "turun gunung" ke Indonesia, para shifu harus bersaing dengan ratusan rekan sejawat. Pihak restoran di Indonesia menyeleksi secara ketat terhadap keahlian membuat la mian para shifu sejati.

Seleksi shifu ini sangat penting karena pada dasarnya walau telah menjadi koki bertahun-tahun pun mereka belum dapat menyandang gelar shifu. Mereka boleh menyandang gelar tersebut setelah mengikuti ujian resmi negara berupa ujian praktik. Ujian ini membuktikan butuh keseriusan menangani segumpal adonan terigu menjadi semangkuk bakmi!

"La mian you qi zhong. You xiao, you kuan de deng deng," kata Long Long dengan tangan bergerak memainkan adonan terigu, memperagakan variasi la mian yang bisa dibentuk tipis, sedang, tebal, menjadi kwee tiaw dan bentuk lain.

Sebagai pelengkap la mian, hadir pelbagai "topping", mulai dari irisan daging sapi tipis, urat sapi, buntut, hingga variasi daging ayam kuah kental. Lebih kurang selusin variasi sajian la mian asli handmade ini.

Semuanya tentu saja menjadi hidangan eksotik, sedap, dan tersaji dalam mangkuk besar khas Tiongkok. Sebagai tambahan, semangkuk kecil kuah kaldu bening, sebotol sambal dan kecap menjadi teman la mian. Tak ketinggalan sepasang sumpit, sendok berupa gayung kayu kecil menjadi alat utama menyantap gulungan mi.

Untuk menjaga keaslian rasa dan mutu, bahan baku seperti terigu, minyak, dan garam didatangkan langsung dari Tiongkok. Untuk telur, Long Long menggunakan produk lokal.

Keterampilan membuat la mian ditunjukkan oleh koki Xiao Bing (31) asal Shanghai di Restoran Yen Palace di Mal Kelapa Gading Tiga, Jakarta Utara. Bapak satu anak itu telah berkecimpung dalam pembuatan la mian selama tujuh tahun.

Begitu terampilnya, sampai- sampai Xiao Bing dengan enteng mengatakan kesannya, "Ya memang mudah. Sama seperti di negerinya, saya bekerja di Indonesia cuma menarik-narik adonan menjadi la mian yang sedap."

Seni membuat la mian yang atraktif membuat dapur restoran jenis ini menyatu dengan deretan meja makan pelanggan. Sambil menyantap hidangan, pengunjung restoran dapat menyaksikan kepiawaian para shifu membuat la mian.

Sejumlah restoran la mian, seperti Crystal Jade La Mian Xiao Long Bao di Plaza Indonesia, Shang Hai La Mian di Jalan Hayam Wuruk, Yen Palace di Mal Kelapa Gading Tiga, menjadi contoh betapa rumah makan dapat menjadi ajang pertunjukan seni memasak.

Metamorfosis gumpalan adonan menjadi seporsi mi memang menarik. Shifu mengoles adonan terigu dengan minyak, membanting, kemudian mengambil segumpal besar adonan itu. Adonan pun dipotong-potong kira-kira sepanjang 20 sentimeter. Potongan kecil itu segera ditarik, diputar, dan dibanting berulang kali hingga membentuk mi menjulur tergantung di antara kedua tangan shifu.

Setelah mencapai ukuran ideal tipis memanjang, shifu menceburkan onggokan la mian ke panci berisi air mendidih. La mian diangkat dari panci berpindah ke mangkuk, diberi lauk sesuai dengan pesanan.

MENIKMATI la mian memang sebuah pesona tersendiri, seni hidangan dipadu dengan pertunjukan atraktif para shifu pembuat mi. Suasana sedemikian rupa tentu tak berbeda dengan restoran la mian di Tiongkok.

Meski semua serba asli dan khas nyaris menyerupai la mian di tempat asalnya, ada satu hal yang sangat membedakan la mian Jakarta, yaitu soal harga seporsi.

Restoran di Jakarta menjual la mian dengan harga bervariasi, Rp 20.000 – Rp 35.000, tergantung dari jenis pelengkap hidangan pilihan konsumennya. Padahal, di negeri asalnya, la mian adalah makanan rakyat seharga RMB 3-5 semangkuk atau berkisar Rp 3.000-Rp 5.000 (1 renminbi atau RMB senilai Rp 1.000). Paling murah adalah la mian polos untuk para vegetarian dan yang tergolong mewah adalah la mian urat atau buntut sapi. Belum lagi lauk- pauk atau sayur-mayur.

Memang disayangkan, hidangan rakyat di negeri asalnya ini justru menjadi barang mewah di Indonesia. Demikian pula para shifu la mian belum lagi mendapat kesempatan menurunkan ilmu kepada para pedagang mi di Indonesia. Keahlian mereka mendapat bayaran mahal di Indonesia. Para shifu modern tersebut tidaklah tinggal di biara sederhana layaknya mahaguru. Akomodasi mewah dan gaji berlimpah adalah imbalan mereka.

Bayangkan seandainya para pedagang mi ayam pun mampu membuat la mian dengan cita rasa Indonesia, tidak ubahnya Marco Polo memperkenalkan la mian ke Eropa menjadi spageti. Sungguh, pesona yang ditawarkan Jalan Sutera belumlah mati!

Jumat, 14 Mei 2010

Article

Pendidikan di Sumatera Selatan

Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia kita. Namun saat ini, pendidikan kita sedang mengalami krisis serius dan menuntut perhatian serta penanganan yang sungguh-sungguh.

Krisis dan Pendidikan

Krisis multidimensional berkepanjangan yang dialami bangsa ini, sejatinya adalah krisis kemanusiaan. Titik tumpu pembangunan pada pertumbuhan ekonomi di masa lalu telah membuat kualitas manusia kita dalam arti luas terabaikan, dan akhirnya menjadi rendah. Era Reformasi seolah-olah membuaka selubung wajah kemanusiaan kita yang sesungguhnya, compang-camping.

Beberapa hasil riset seperti Indeks Pekembangan Manusia (Human Developing Index / HDI) kita, peringkat korupsi, peringkat perguruan tinggi, dan peringkat daya saing menunjukkan kelemahan SDM kita. Hampir semua sektor kehidupan bangsa ini ternyata lebih rendah dibandungkan dengan negara-negara lain, bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun. Kenyataan ini tentu saja berkolerasi positif terhadap dunia pendidikan. Pendidikan Nasional kita telah gagal dalam membangun dan mengembangkan sumber daya manusia.

Apapun kebaikan yang kita harapkan tentang masyarakat dan bangsa ini di masa depan, maka tidak akan bisa lepas dari pendidikan. Apabila kita hendak secara signifikan dan mendasar menjawab berbagai persoalan bangsa ini, maka pendidikanlah yang terlebih dahulu harus dibenahi, karena disanalah akarnya. Sejarah bangsa-bangsa maju seperti Jepang dan Malaysia membuktikan kebenaran pemikiran ini. Kedua negara tersebut mengalami percepatan kemajuannya justru setelah mereka merestorasi sistem pendidikan nasionalnya.

Jepang pada tahun 1800-an atau sebelum restorasi Meiji, merupakan sebuah negara terbelakang. Sistem pemerintahan Bakufu yang konservatif dan tertutup telah menyebabkan negeri matahari terbit itu bak katak dalam tempurung. Mereka melakukan modernisasi setelah dikalahkan bangsa Barat. Langkah Restorasi itu didahului oleh perjalanan sebuah tim yang diutus pemerintah untuk berkeliling dunia selama dua tahun.

Misi perjalanan itu ialah mencari blue print modernisasi, khususnya cetak biru sistem pendidikan yang terbaik bagi Jepang. Kebijakan pendidikan Jepang pada masa itu adalah menyerap sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara-negara maju dan mengolahnya sesuai dengan tradisi dan kebutuhan setempat.

Mereka mengirim ribuan pelajar dan mahasiswanya ke negara-negara maju, dan sebaliknya mendatangkan ribuan guru-guru asing untuk mengajar di Jepang. Jepang mengalami kemajuan luar biasa hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun. Mereka memiliki sistem pendidikan nasional yang mandiri dan mantap, yang emadukan unsur-unsur modern dengan nilai-nilai tradisional Jepang. Keberhasilan sistem pendidikan itu teruji ketika bom atom di Hiroshima dan Nagasaki meluluhlantakkan negeri tersebut. Dari keterpurukan akibat Perang Dunia II, negeri Matahari Terbit itu memang “terbit” dengan cepat, meraih apa yang disebut the economic miracle.

“Look East”


Langkah spektakuler Jepang ini menginspirasi Mahatir Muhammad untuk membangun Malaysia dengan semboyan “Lihat ke Timur” (Look East), dan berhasil. Malaysia yang pada tahun 60 hingga 70-an berguru kepada kita dalam berbagai hal, kini jauh meninggalkan kita. Kebijakan Ekonomi Baru (New Economic Policy / NEP) Malaysia telah mengubah dan mengefektifkan sistem pendidikannya.

Lembaga pendidikan dijadikan agen yang mengubah mentalitas Melayu yang pemalas menjadi pekerja keras dengan berakal sehat. Malaysia melakukan gerakan pendidikan seperti yang dilakukan oleh Jepang, mengirim banyak pelajar dan mahasiswanya serta mendatangkan banyak tenaga pengajar, termasuk dari Indonesia ke Malaysia. Kini mereka telah menetapkan visi 2020 sebagai super power.

Pendidikan Kita

Pendidikan kita mengalami berbagai anomali akut baik secara fundamental, struktural, dan operasional. Secara fundamental, pendidikan kita belum memiliki arah yang jelas. Kita memang memiliki tujuan pendidikan seperti yang tertera dalam UUD 1945 dan UU Sisdiknas. Tetapi rumusan tujuan itu sangat umum sehingga meskipun diderivasi secara hirarkis, tetap saja tidak memberikan arah operasional yang jelas.

Gambaran komopetensi apa yang dimiliki oleh seorang siswa ketika ia pergi meninggalkan sebuah jenjang persekolahan tertentu tidak terukur dan kabur. Kekaburan fokus ini pada akhirnya berimplikasi kepada kurikulum yang diterapkan.

Permasalahan struktural pendidikan kita tampak pada kebijakan-kebijakan yang trial and error; hit and run. Seringkali sebuah keputusan yang menyangkut nasib jutaan umat manusia hanya untuk kepentingan sesaat berdasarkan ide, saran, atau keinginan seorang pejabat atau sekelompok elit yang merasa paham tentang pendidikan. Gonta-ganti kurikulum, Pelajaran PSPB di masa lalu, Pelaksaan UAN (Ujian Akhir Nasional), Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), adalah contoh-contoh dari ketiadaan visi para pengambil kebijakan di negeri ini. Persoalan struktural lainnya ialah sistem birokrasi yang tidak memuliakan guru serta manajemen yang menindas dan korup.

Masalah operasional pendidikan kita terletak pada praktik kelas, dan manajemen sekolah. Rangkaian panjang birokrasi pendidikan kita berujung pada proses pembelajaran di kelas dengan guru sebagai kunci kesuksesannya. Apabila proses pembelajaran di kelas berkualitas, maka produk pendidikan akan berkualitas pula. Menjadi jelaslah bahwa inti persoalan mutu pendidikan kita adalah pada kompetensi guru, dan dari sanalah pembenahan dapat dimulai. Kompetensi guru terbentuk dari wawasan, penguasaan materi ajar, dan pehamana serta keterampilan metodologis.

Pembenahan praktik kelas tidak lain meningkatkan kompetensi guru yang diikuti oleh perbaikan sarana dan prasarananya. Ini menjadi tidak mudah karena saling berkaitan dengan banyak hal, seperti anggaran pendidikan, sistem pendidikan tenaga keguruan, rekrutmen, dan kesejahteraan guru. Meskipun demikian dengan adanya otonomi daerah, program peningkatan bidang ini tampaknya menjadi lebih mudah.

Masih pada level struktural, banyaknya keluhan masyarakat belakangan ini tentang mahalnya biaya pendidikan, ketidakadilan, ketidakjelasan sistem, tidak lain bersumber dari manajemen sekolah. MBS, ternyata melahirkan simbiose antara pihak manajemen sekolah dengan komite sekolah yang menyebabkan mahalnya biaya pendidikan. Konsep komite sekolah yang mengawang-awang pada praktiknya hanyalah melegalisasi berbagai pungutan liar di sekolah. Tetapi ironisnya, di tengah keluh kesah tingginya biaya pendidikan, nasib guru yang menjadi pilar sekolah masih saja miskin. Merekonstruksi manajemen sekolah dan memberikan insentif kepada guru merupakan langkah pragmatis jangka pendek yang perlu dilakukan segera.

Rabu, 12 Mei 2010

Article

Skillful Food

An innovative international hospitality mission is being conducted in Queensland.

The positive effects will benefit all participants as well as Queensland consumers and tourists. The mission is called Meister, a word derived from the German language which means skilful in certain fields/jobs.

It is the name which refers to the Indonesian Skill Training Program. Organisers of this international program are the Department of Indonesian Vocational Education, the Aus-Training Nusantara and the Southbank Institute of TAFE, Brisbane.

Four Sheraton properties in Queensland are heavily involved. The program has 25 hospitality teachers from different vocational high schools and provinces in Indonesia.

After completing a theory component at the Institute of TAFE, the 25 teachers now are completing 32 weeks of on-the-job training within four Sheraton properties in Queensland. Six are working at each of the Sheraton Mirage Port Douglas, Sheraton Mirage Gold Coast and Sheraton Noosa Resort and seven at the Sheraton Brisbane Hotel.

The Indonesian Food Festival, being held at the Sheraton Mirage Port Douglas Lagoons Restaurant, starts on April 20 and closes on May 2. The festival buffet is served daily in Lagoons Restaurant from 6-10 pm.

The students are working in housekeeping, front office, laundry, Lagoons Restaurant, room service, banquets, porters and various sections of the kitchen.

At the end of the program, the teachers will return to their provinces complete with a Certificate III in Hospitality, financed by the Indonesian Government.


Indonesian teachers who are involved with the Meister program at the Sheraton Mirage Port Douglas are: Rita Krismiaty, hospitality teacher from central Borneo; Bagyono, hospitality teacher from Surakarta – Solo; I Gede Surata, food production teacher, from North Sumatra; Sutanto, hospitality teacher, from West Java; Wahyu Kusumaningtyas; food production teacher, from Jakarta; and Nancy Pontoh, hospitality teacher, from Sulawesi.

While not qualified as chefs, Ayo and Gede are the two Indonesian teachers in the Sheraton Mirage Port Douglas kitchen. They are here to learn about western cooking in a hands-on capacity.

Equally important is that they pass on their knowledge to those here. This knowledge gas been used in much of the food served at Lagoons buffet – in particular with the hot and cold foods – salads and marinades for seafood and meats, dipping sauces, soups and especially garnishes for completed dishes.

Some of the recipes for these dishes appear below. But the question begs to be asked – could this program extend to other countries and the answer came back – definitely yes! Michael Cottray, general manager of The Sheraton Mirage, Port Douglas said: “The program has proved of benefit to both sides, and there is no reason that we could not do so, the only limiting factor being language – but even on that front (with this program), there has been impressive progress made.

RENDANG SAPI (Beef in Coconut milk)
Ingredient:
1 kg topside beef cut into 5 cm x 2.5 cm squares
6 cups of coconut milk
3 kaffir lime leaves
3 fresh turmeric leaves (optional leaves)
1 cinnamon stick
5 whole star anis
5 cardamom pods, bruised
Salt
Spice paste: 8 birdseye chillies, 12 shallots, 10 cloves of garlic, 2 tsp ginger, 2 pcs galangal, 1 tsp peppercorns crushed

This dish has its origin in west Sumatra, an area known for its spices, fresh herbs, burning chillies and pepper. For those who like their curries hot, this is the dish for you. Prepare the spice paste by grinding (mortar) or blending all ingredients finely. Put beef, spice paste and all other ingredients into a wok and bring slowly to a boil, stirring constantly to prevent the coconut milk from separating. Cook over low heat, stirring from time to time, until the meat is very tender and all the sauce has evaporated. Continue cooking the beef, which will fry in the oil that has come out from the coconut milk, until rich brown. Serve 4 people. Helpful hints: The spice paste can be pre-prepared and kept in an airtight jar in the fridge until used.

SAMBAL BAJAK (Fragrant Chilli Sambal)
Ingredient:
7 red chillies, seeded and sliced
Freshly grated nutmeg
1 tsp dried shrimp paste, toasted
6 shallots, peeled and sliced
3 cloves of garlic, peeled and sliced
1 ½ tsp palm sugar, chopped
2 tsp oil
2 lemongrass, bruised
1 cm galangal, peeled and sliced
4 tsp tamarind sauce

Combine first seven ingredients and grind (mortar) or blend (slow speed) finely. Heat the oil and sauté ground ingredients together with lemongrass and galangal, stirring until mixture changes colour. Add tamarind juice and simmer for another minutes, then leaves to cool. Remove lemon grass and galangal before serving. Keep for up to one week. Sambal are a very important part of an Indonesian meal, sambal are used for flavouring the dishes and the rice.

SATE MADURA (Lamb Satay)
Ingredient:
1 kg lamb leg (in 2 cm cubes)
½ cup sweet soy sauce
½ tsp coriander, crushed
¼ tsp white peppercorn, crushed
Lime juice
Shallots, sliced

Normally made with goat, this is the most common satay in Indonesia, originating in the Island of Madura just to the northeast of Java. Thread the lamb cubes on to bamboo skewers; combine all ingredients except for the shallots, mixing well. Divide in two parts. Dip each skewer in the sauce, using a spoon to help cover the meat. Marinate for 30 minutes. Drain then grill the satay over hot charcoal. Combine sauce with shallots and serve as a dip for the cooked satays.

Senin, 26 April 2010

Article



Puasa Bagi Penderita DM ? Why Not ?


Salah satu langkah pengobatan DM adalah melalui pengaturan cara makan atau diet. Namun, bukan berarti harus membatasi segala makanan yang dikonsumsi, baik porsi dan jenis makanannya. Yang terpenting, adalah pemenuhan kebutuhan akan unsur yang diperlukan tubuh. Dan hal ini justru dikelola lebih baik saat bulan puasa.

Tubuh terkontrol. Ia mengatakan, keuntungan yang diperoleh bagi tubuh saat puasa ada beberapa hal. Pertama, memberi kesempatan organ pencernaan untuk istirahat setelah bekerja sepanjang hari. Dengan istirahat itu, maka saluran pencernaan yang terluka dapat memulihkan kondisinya.

Kedua, memberikan kesempatan regenerasi sel dan jaringan. Selanjutnya, juga menghindari risiko penyakit degeneratif akibat oknsumsi makan berlebihan. Yang lainnya, tentu saja sebagai sarana pengendalian emosi dan penjernihan hati serta pikiran.

Bagi penderita DM, hal-hal tersebut sangat penting. Terutama yang terakhir, yang berkaitan dengan diet. Penderita DM memerlukan diet sebenarnya bertujuan untuk menjaga agar kadar gula dalam darah tidak mengalami peningkatan, atau yang biasa disebut ketoasidosis. Dengan puasa, maka konsumsi makanan akan lebih terkontrol, baik waktu, macam, dan kadarnya.

Sebagai contoh, beberapa kebutuhan energi yang seharusnya terpenuhi oleh penderita DM yakni 30% untuk buka puasa, 25% sesudah shalat Tarawih, dan 25% saat makan sahur. Sedangkan yang berasal dari camilan, 10% dari snack sebelum tidur dan 10% untuk snack setelah tidur. Ini adalah salah satu acuan resep sederhana mengatur makanan bagi penderita DM.

Ada beberapa makanan yang perlu diperhatikan saat puasa. Kurma, kolak, atau minuman yang manis boleh-boleh saja dikonsumsi, asal tidak berlebihan. Batasan-batasan yang perlu adalah bagi makanan yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Untuk karbohidrat kebutuhannya sekitar 55-70%, protein 14-20%, dan lemak cukup 20%. Ini bisa didapat dari menu-menu yang sederhana. Contohnya, sebelum shalat Maghrib, penderita DM baik jika mengonsumsi satu porsi selada buah. Selanjutnya sesudah shalat Maghrib dapat mengonsumsi nasi dan sayur. Sayur sederhana seperti pecel lele dengan lalapan atau tumis tempe itu sudah bagus untuk dikonsumsi.

Selepas shalat Tarawih, bisa disambung dengan 3 iris roti tawar atau roti isi roer egg. Dan sahur, disamping makan makanan pokok, juga perlu ditambah buah. Buah-buahan ini baik juga untuk camilan. Perlu diingat setelah sahur jangan langsung tidur. Tunggu hingga satu atau dua jam. Ini bertujuan agar dalam tubuh tidak terjadi penimbunan lemak.



Suntik Insulin Multiple Stop Puasa
Penderita DM yang kadar gula darahnya terkendali dengan pengaturan diet, tidak akan kesulitan saat bulan puasa tiba. Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah jadwal, jumlah dan komposisi makanan yang dikonsumsi.

Misalnya, pada waktu-waktu biasa, jadwal makan penderita DM dimulai pukul 07.00 pagi (sarapan), dan snack pukul 10 siang, maka harus diundur jam 6-8 malam. Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah komposisinya.

Penderita DM sebaiknya dapat menjaga kondisi tubuhnya agar tidak terjadi hiper atau hipoglikemi. Caranya, mereka dianjurkan memakai jadwal makan sahur mendekati waktu imsak. Si pasien juga sebaiknya mengurangi aktivitas siang dan mengalihkan jadwal olahraga ke waktu sore.

Selain dari segi makanan, bagi penderita dengan kebutuhan OHO (Obat Hipoglikemik Oral) dosis tunggal, tidak akan sulit berpuasa.